Menjadi bagian dari anggota keluarga besar fakultas psikologi di sebuah perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta membuat saya harus bisa menyesuaikan diri dengan cara dan metode belajar yang berbeda dari yang ada di SMA. Selama di SMA, saya adalah seorang pelajar yang "biasa-biasa" saja. Saya bukan orang yang pandai di akademik dan bukan orang yang getol mengikuti segala jenis kegiatan atau kepanitiaan. Dalam belajar, saya juga bukan orang yang rajin untuk membaca dan mengerjakan tugas. Jujur saja, saya sering menyontek saat ujian. Saya juga sering meng-copy pekerjaan teman. Namun, saya bukan orang yang mentah-mentah mencerna segala hal yang saya contek. Saya pasti bertanya pada si empu nya jawaban, bagaimana cara nya bisa mendapatkan jawaban itu. Namun, jika saya sudah malas, ya sudah. Saya akan mencontek begitu saja.
Sekarang, saya telah menjadi mahasiswa dan saya harus menyesuaikan diri dengan cara belajar disini. Bahkan, . saya merasa sering tergopoh-gopoh untuk mengejar semua materi. Awalnya, saya semangat dan rajin sekali untuk mencatat, bahkan pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku yang wajib dan ingin saya baca. Namun, lama- kelamaan saya mulai malas untuk mengerjakan semua tugas. Waktu 24 jam terasa sangat singkat dan benar-benar kurang untuk saya mengerjakan segala tugas yang ada. Terkadang saking penuhnya tugas, namun untuk menyelesaikan semua itu tidak didukung oleh kondisi fisik saya, maka saya biasanya mengerjakan tugas di last minute alias detik-detik terakhir. Sebuah kebiasaan buruk memang, namun saya memiliki alasan tersendiri kenapa melakukan hal itu.
Ketika saya sudah mulai lelah namun masih banyak tugas yang harus saya selesaikan, saya lebih memilih untuk beristirahat lebih dulu karena saya lah yang mengetahui kondisi fisik saya. Dengan mengistirahatkan sejenak otak dan fisik saya, biasanya untuk mengerjakan tugas akan lebih "masuk". Hal ini saya lakukan karena saya orang yang mudah terkena penyakit. saya tidak mau merepotkan mereka, oleh karena itu, lebih baik saya beristirahat sejenak.
Saat ujian, biasanya saya bekerja sama dengan teman (alias mencontek). Hal itu sudah saya lakukan sejak saya SMP. Kacau, bukan? Namun, lama-kelamaan saya sadar hal itu justru membuat saya lebih repot. Repot karena harus mempersiapkan jawaban di selembar kertas kecil, repot karena saat ujian saya harus mengatur strategi agar tidak diketahui guru, dan repot-repot yang lainnya. Mencontek, bagi saya adalah sebuah bentuk rasa takut dan khawatir akan gagalnya saya di ujian. Itulah yang saya alami, karena saya tidak belajar! Akhirnya, di tingkat dua SMA, saya mulai mengurangi kebiasaan mencontek. Meskipun sulit dan jika tidak mencontek saya mendapat nilai yang lebih jelek, tapi saya mendapat sebuah kepuasaan tersendiri. Puas karena saya mampu mengerjakan soal ujian dengan kemampuan sendiri. Dari kebiasaan ini (yang saya lakukan pelan-pelan dan memang cukup sulit), saya belajar untuk semakin rajin mempersiapkan diri menghadapi ujian atau pun quiz. Meskipun nilai nya tidak memuaskan, namun saya tetap bangga dan merasa lebih puas.
Di universitas saat ini, saya harus semakin getol mempersiapkan diri mengadapi ujian. Ibarat seorang pertapa, seperti itulah saya saat berada di ruang ujian. Tidak ada tengok-tengokan, siul-siulan, atau pun tukar menukar kertas bersi jawaban. Awalnya sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan cara seperti ini, tapi disinilah tantangannya. Kalau yang lain bisa, kenapa saya tidak? Begitu pikiran saya.
Dari rangkaian kebiasaan diatas, lama kelamaan saya semakin terbiasa untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian dan mengerakan tugas-tugas dengan baik. Waktu begitu berharga bagi saya saat ini. Saya bisa santai ketika tugas selesai, jika belum selesai, bagi saya (saat ini) tidak ada istilah santai.
Oleh karena itu, saya ingin berterima kasih. Berterima kasih pada teman-teman di fakultas, dosen-dosen, dan peraturan-peraturan yang ditetapkan. Dari mereka lah saya belajar untuk mengubah semua kebiasaan buruk saya, meskipun dengan pelan-pelan. Terima Kasih..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar